Indonesia, lanjutnya, dibangun di atas keberagaman sehingga setiap warga negara harus memiliki kesempatan yang setara untuk hidup berdampingan tanpa diskriminasi berdasarkan agama maupun keyakinan.
“Pancasila tidak boleh hanya menjadi hafalan atau slogan dalam kegiatan kenegaraan. Nilainya harus hadir ketika kita menghadapi persoalan nyata, termasuk ketika berhadapan dengan orang yang berbeda keyakinan. Di situlah kita diuji, apakah kita benar-benar memahami kemanusiaan dan keadilan, atau hanya menggunakannya ketika sesuai dengan kepentingan kelompok sendiri,” jelasnya.
Ia menambahkan, menjaga kerukunan bukan berarti menutup ruang kritik atau mengabaikan keberatan masyarakat. Kerukunan justru perlu dibangun melalui keterbukaan, kejujuran, serta kesediaan semua pihak menyelesaikan persoalan tanpa intimidasi dan provokasi.
Sementara itu, Ketua The IDE Purwakarta, Faraz Hussaeni, menekankan pentingnya menjaga persatuan dan mengedepankan semangat kebangsaan dalam menyikapi polemik pembangunan GKPS Cikopo.
Ia menilai perbedaan pandangan di tengah masyarakat harus dihadapi dengan kedewasaan agar tidak memperlebar jarak antarkelompok.
