Peristiwa tersebut berlangsung pada Sabtu, 9 Januari 1830, tidak lama setelah ia mulai memimpin Kabupaten Karawang pada 1829.
Sindangkasih dipilih sebagai pusat pemerintahan baru karena letaknya berada di wilayah tengah Kabupaten Karawang saat itu sehingga dinilai lebih strategis.
Selain memiliki tanah yang subur dan kondisi alam yang mendukung, kawasan tersebut memiliki sumber air yang kemudian berkembang menjadi Situ Buleud serta didukung keberadaan Cikao sebagai jalur perdagangan melalui pelabuhan sungai.
Kawasan yang dahulu menjadi pusat pemerintahan baru Kabupaten Karawang itu kini menjadi Kelurahan Sindangkasih, salah satu kelurahan di Kecamatan Purwakarta, Kabupaten Purwakarta, Provinsi Jawa Barat.
Dalam manuskrip Babad Wanayasa karya R. Moehammad Moekri disebutkan, proses pencarian lokasi ibu kota baru dilakukan oleh R.A.A. Suriawinata bersama para penasihatnya.
Dalam mengambil keputusan penting, ia disebut selalu memohon petunjuk kepada Allah SWT melalui Salat Istikharah. Karena kebiasaannya membaca shalawat, masyarakat kemudian mengenalnya dengan julukan Dalem Shalawat.
Sindangkasih, Cikal Bakal Sejarah Lahirnya Purwakarta
Sindangkasih bukanlah wilayah yang baru muncul setelah menjadi pusat pemerintahan Kabupaten Karawang.
Sejumlah arsip peta kolonial menunjukkan kawasan tersebut telah dikenal jauh sebelumnya, di antaranya melalui peta Sindangkasih tahun 1778, peta Cikao tahun 1790, serta peta kawasan Citarum pada 1809 hingga 1810.
Setelah menjadi pusat pemerintahan baru Kabupaten Karawang, Sindangkasih kemudian dibangun mengikuti pola tata kota tradisional Jawa dengan alun-alun sebagai pusat kota, pendopo bupati di sisi selatan, masjid agung di sebelah barat, serta rumah keluarga bupati di sisi timur.
