Lembah Pamijahan: Benteng Sunyi Perlawanan
Langkah kaki sang Syeikh akhirnya berlabuh di tanah leluhur istrinya di Sukapura (Pamijahan). Selama setengah abad sejak 1680 hingga akhir hayatnya pada 1730 di usia 80 tahun ulama karismatik itu mengabdikan diri sebagai Mufti Sukapura.
Di Pamijahan, Syeikh Abdul Muhyi tidak hanya mengajarkan ajaran tasawuf falsafi tentang Martabat Tujuh, tetapi juga menyemai benih-benih perlawanan diam (silent resistance). Dari lorong-lorong gua dan surau sederhana di Pamijahan, jaringan Tarekat Syathariyah mengakar kuat di benak para santri.
Siapa sangka, benih spiritual yang ditanamnya di abad ke-17 itu kelak mekar menjadi kobaran api perjuangan pada abad ke-19. Prof. Dr. Ajid Thohir akademisi sejarah Islam menegaskan warisan historis ini:

“Ajaran tasawuf di era kolonial seringkali menjadi panji perjuangan sebagai gerakan spiritual murni. Pada abad ke-19, jaringan ini terbukti meluas menjadi basis organisasi perjuangan Pangeran Diponegoro. Bahkan ulama pejuang seperti Syeikh Yusuf Purwakarta di wilayah Karawang bergerak di bawah panji Tarekat Syathariyah yang sama.”
