Menikah dan Jejak Pelarian ke Selatan
Kembali ke Ampel Denta, Abdul Muhyi menyunting Raden Ayu Bekta, putri dari Sembah Dalem Sacaparana, seorang bangsawan Menak Sukapura Tasikmalaya. Garis keturunan menak yang kuat dipadukan dengan kedalaman ilmu keagamaan membawanya diangkat menjadi Penghulu di Kuningan pada kurun 1678–1685.
Namun, ketenangan itu kembali terusik. Keraton Cirebon pecah akibat perpecahan internal yang disusupi politik adu domba VOC. Tak ingin menjadi bidak dalam permainan kolonial, Syeikh Abdul Muhyi memilih memboyong keluarga besarnya melakukan eksodus ke arah selatan menuju kawasan Pameungpeuk dan Batuwangi, Garut.
Di belantara Garut Selatan yang dingin dan hening, ia berhadapan dengan tatanan masyarakat yang masih memegang teguh ajaran Sunda Wiwitan. Di sinilah kearifan lokalnya diuji. Tanpa pedang, tanpa teriakan, Syeikh Abdul Muhyi merangkul warga lewat pendekatan kultural yang lembut dan penuh keteladanan.
Peneliti sejarah Islam Nusantara, Zainul Milal Bizawi, menggarisbawahi keindahan metode dakwah ini:
“Pemanfaatan struktur sosial dan nilai lokal oleh Syeikh Abdul Muhyi di Garut sejalan dengan relasi pengetahuan dan kekuasaan. Pengetahuan keagamaan dialirkan secara perlahan tanpa merusak tatanan kultural yang ada, sehingga Islam diterima tanpa gejolak sosial.”
