“Pengaruh modernisme kaum kolonial pada masa itu sejatinya adalah praktik sekulerisasi terselubung. Hal inilah yang menjadi alasan utama mengapa masa muda Syeikh Abdul Muhyi diarahkan penuh pada pendidikan Islam di pesantren, bukan pendidikan ala bangsawan yang rentan terkontaminasi kepentingan politik VOC.”
Berkelana Mengejar Sanad hingga Tanah Suci
Tahun 1669 menjadi awal pengembaraan spiritual yang sesungguhnya. Berbekal tekad mulia, pemuda berusia 19 tahun itu berlayar ke Serambi Makkah, Aceh. Di sana, ia bertatap muka dan berguru langsung kepada ulama besar Syeikh Abdul Rauf Singkel, hingga memperoleh ijazah Tarekat Syathariyah.

Namun, dahaganya akan ilmu belum terpuaskan. Abdul Muhyi melintasi samudra menuju Makkah al-Mukarramah. Selama sembilan tahun penuh (1670–1679), di bawah terik matahari Gurun Arabia dan naungan Ka’bah, ia menyerap kedalaman ajaran tasawuf dari Syeikh Ibrahim al-Kurani murid utama Syeikh Ahmad al-Qusyasyi.
Ketika kembali ke Nusantara pada 1679, suasana perlawanan makin memanas. Sebelum melangkah lebih jauh, Abdul Muhyi menyempatkan diri menemui Syeikh Yusuf Al-Makasari. Pertemuan dua samudra ilmu ini menjadi momen penting penyerahan sanad tarekat, sebelum Syeikh Yusuf akhirnya ditangkap dan dibuang oleh VOC ke Afrika Selatan pada 1694.
