Data center, menurut dia, harus dibangun dengan penggunaan air yang efisien, konsumsi energi yang terkendali, serta semakin banyak menggunakan energi terbarukan.
“Indonesia ingin menjadi pusat data center di kawasan. Itu peluang, tetapi hanya jika data center yang dibangun hemat air, efisien, dan ditenagai energi terbarukan,” ujarnya.
Ia mengingatkan, tanpa aturan yang jelas, Indonesia berisiko menghadapi peningkatan emisi dan tekanan terhadap sumber daya air hanya untuk memenuhi kebutuhan komputasi global.
Karena itu, pemerintah dinilai perlu bergerak sebelum semakin banyak proyek data center dibangun dengan standar yang berbeda-beda.
“Pemerintah perlu bergerak cepat sebelum puluhan proyek serupa terkunci dengan standar yang rendah,” katanya.
IESR menyatakan siap membantu pemerintah pusat maupun daerah dalam menyusun standar data center yang lebih ramah lingkungan.
Standar tersebut diharapkan tidak hanya mendukung pertumbuhan industri teknologi, tetapi juga tetap menjaga kepentingan masyarakat, lingkungan, dan target pengendalian iklim.
