PurwakartaUpdate.com— Spekulasi dan prediksi mengenai nilai tukar Rupiah yang berpotensi menyentuh level Rp20.000 per dolar Amerika Serikat (AS) belakangan ini menjadi perbincangan hangat di kalangan pelaku pasar dan masyarakat.
Menanggapi proyeksi tersebut, Bank Indonesia (BI) menegaskan komitmen penuhnya untuk menjaga stabilitas mata uang Garuda di tengah ketidakpastian pasar keuangan global.
Gubernur Bank Indonesia, Destry Damayanti, menegaskan bahwa pergerakan nilai tukar Rupiah saat ini sangat dipengaruhi oleh kombinasi berbagai faktor, mulai dari sentimen investor global, dinamika permintaan dan penawaran (supply-demand) valuta asing, hingga persepsi pasar terhadap kondisi makroekonomi.
Fundamental Ekonomi Indonesia Dinilai Tetap Solid
Di tengah bayang-bayang pelemahan mata uang global, Destry optimistis bahwa ketahanan ekonomi nasional masih berada dalam posisi yang sangat baik.
Jika dibandingkan dengan negara-negara berkembang lainnya (peer group), indikator fundamental Indonesia menunjukkan performa yang relatif lebih stabil.
“Kalau kita lihat dari fundamental ekonomi kita, sebenarnya kita dalam kondisi yang relatif oke dibandingkan dengan peer group kita,” ujar Destry saat berbicara dalam acara Rapimnas Kadin 2026 di Jakarta, dikutip dari Liputan6.
Menurutnya, gejolak yang terjadi pada nilai tukar saat ini tidak lepas dari dinamika pasar internasional. Salah satu faktor penggerak utama adalah arah kebijakan moneter bank sentral AS, Federal Reserve (The Fed).
Ekspektasi pasar bahwa The Fed tidak akan menaikkan suku bunga acuan secara agresif memberi angin segar dan dampak positif bagi pergerakan pasar keuangan global, termasuk Indonesia.
Oleh karena itu, masyarakat dan pelaku usaha diminta untuk melihat pergerakan kurs Rupiah secara obyektif sebagai bagian dari fluktuasi wajar di pasar finansial, bukan sebagai tanda penurunan ketahanan ekonomi nasional.
