Stabilitas Nilai Tukar Jadi Prioritas Utama Bank Indonesia
Sebagai otoritas moneter, Bank Indonesia menegaskan bahwa menjaga stabilitas Rupiah adalah prioritas terdepan.
Langkah ini dinilai krusial untuk menciptakan iklim investasi dan bisnis yang kondusif di dalam negeri.
Nilai tukar yang terukur dan stabil akan memberikan kepastian bagi sektor riil, mendorong pertumbuhan ekonomi, serta mendukung penciptaan lapangan kerja secara berkelanjutan.
“Komitmen kami di Bank Indonesia adalah menjaga stabilitas. Stabilitas itu yang pertama harus kita jaga supaya tercipta iklim ekonomi yang kondusif,” tegas Destry.
BI terus memantau transaksi valuta asing secara real-time guna memastikan pasokan mata uang asing di pasar domestik tetap terpenuhi dengan baik.
BI: Volatilitas Pasar Valas Masih Wajar
Menanggapi fluktuasi harian Rupiah yang sempat mengalami tekanan, Bank Indonesia menganggap dinamika tersebut masih berada dalam batas yang wajar.
Ketidakpastian global memang memicu pergerakan nilai tukar yang fluktuatif, namun mekanisme pasar sejauh ini berjalan cukup baik.
“Ini tergantung supply-demand hari ini. Pokoknya pergerakannya tetap terus kita monitor,” ujar Destry usai menghadiri ajang Danantara Technology Innovation Investment Forum (DTIIF) 2026 di Jakarta.
Ketika ditanya mengenai kemungkinan adanya perubahan ekstrem dalam kebijakan intervensi, BI memastikan bahwa langkah penanganan yang ada saat ini masih sangat memadai dan efektif.
“Enggak, enggak (ada perubahan strategi intervensi). Ini volatilitas biasa. Tapi kita kan ada terus, monitor di pasar,” tambahnya.
Langkah Antisipasi BI Menghadapi Gejolak Global
Untuk mengawal mata uang Garuda dari dampak buruk sentimen luar negeri, Bank Indonesia terus melakukan pendalaman pasar moneter (financial market deepening).
BI juga memeta pemicu utama fluktuasi secara komprehensif, baik dari sisi eksternal seperti kebijakan suku bunga global dan geopolitik, maupun dari sisi internal seperti kebutuhan valas impor dan pembayaran utang.
Dengan kehadiran aktif BI di pasar valas baik melalui intervensi spot, Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), maupun pembelian SBN di pasar sekunder pemerintah dan otoritas moneter optimistis nilai tukar Rupiah akan tetap terkendali dan bergerak sesuai dengan nilai fundamentalnya.
Langkah-langkah terukur ini diharapkan dapat meredam spekulasi liar di pasar sekaligus menjaga kepercayaan investor domestik maupun asing terhadap prospek pertumbuhan ekonomi Indonesia ke depan.***
