Oleh: Naurid Muhammad Rifa’i Ilyasa
Purwakartaupdate.com – Sayup-sayup suara gemericik air memantul dari dinding batu basah di pedalaman Pamijahan, Tasikmalaya. Di kegelapan gua yang lembap itu, ratusan tahun lalu, seorang lelaki memejamkan mata. Langkah kakinya telah menempuh ribuan mil melewati kebesaran istana Mataram, riak ombak Samudra Hindia hingga Makkah, hingga akhirnya bersembunyi di balik rimbunnya hutan Garut Selatan.
Lelaki itu adalah Abdul Muhyi. Lahir pada 1650 di Kotapraja Mataram Islam, dirinya memegang tiket emas menuju lingkaran elite priyayi. Ayahnya, Lebe Wartakusumah, seorang Penghulu keturunan bangsawan Kerajaan Galuh yang bertugas di Sumedang Larang dan Mataram. Ibunya, Raden Ajeng Tangenjiah, mengalirkan darah mulia Sunan Giri I.
Namun, takdir Abdul Muhyi tidak ditulis di atas karpet merah istana.
Pelarian dari Bayang-Bayang VOC
Jawa pada pertengahan abad ke-17 sedang dirundung kecemasan. Di bawah kepemimpinan Sultan Amangkurat I (1646–1677), cengkeraman Kongsi Dagang Hindia Timur (VOC) semakin dalam merambah urusan dalam negeri kesultanan. Suasana istana yang pekat dengan kompromi dan sekulerisasi terselubung membuat Lebe Wartakusumah mengambil keputusan krusial: menjauhkan sang putra dari pusat kekuasaan.

Di usianya yang masih amat muda, Abdul Muhyi dikirim jauh ke timur, dari Pesantren Ampel Denta di Surabaya yang kemudian singgah bergu tarekat Syathariyah pada Syeikh Abdurrauf Singkel hingga usianya 19 tahun. Menurut Dr. Ramlan Maulana seorang praktisi sejarah Islam di Priangan, telah membagikan pendapat dalam bukunya berjudul Kaum Ménak Santri: Relasi Kuasa, Kolonialisme dan Identitas Islam, menggambarkan suasana kebatinan zaman itu:
