Bahkan, menurutnya, uang kas terkadang digunakan untuk kegiatan sosial sederhana. Misalnya, ketika ada siswa yang sakit, orang tua bersama-sama menggunakan kas untuk menjenguk atau membantu.
“Kalau ada yang tidak mampu membayar, misalnya dari 28 anak ada dua atau tiga yang tidak bayar, ya tidak dipermasalahkan. Justru ketika anaknya sakit, kita tetap menjenguk dan membantu,” ungkapnya kepada Purwakarta Update, Sabtu (26/9/2026).
Ia menilai, keberadaan kas kelas seharusnya juga dapat menjadi sarana mengajarkan anak tentang empati, kepedulian dan kebersamaan.
Untuk kebutuhan belajar yang sifatnya mendadak, seperti fotokopi tugas, kas juga dapat digunakan apabila sudah disepakati. Menurutnya, pengelola kas pun harus berhati-hati agar penggunaannya transparan dan dapat dipertanggungjawabkan.
