Nata menilai persoalan Palestina tidak dapat hanya dilihat sebagai persoalan keamanan antara dua pihak. Konflik tersebut memiliki dimensi sejarah, kemanusiaan, hukum internasional, serta politik global yang kompleks.
“Palestina berada di tengah persimpangan antara hak sebuah bangsa untuk merdeka dan berbagai kepentingan global yang selama ini membentuk dinamika kawasan. Ada kepentingan politik, keamanan, ekonomi, dan persaingan pengaruh negara-negara besar,” ujarnya.
Menurutnya, tarik-menarik berbagai kepentingan tersebut kerap membuat masyarakat sipil menjadi pihak yang paling lama menanggung dampak konflik.
“Alih-alih membawa penyelesaian, tarik-menarik kepentingan global justru sering membuat masyarakat sipil menjadi pihak yang paling lama menanggung penderitaan,” katanya.
Ia juga mengingatkan bahwa persoalan Palestina tidak hanya berkaitan dengan Gaza.
