Ia menjelaskan, Indonesia membutuhkan kapasitas komputasi yang besar untuk mendukung perkembangan teknologi digital.
Di sisi lain, penggunaan energi untuk data center tidak boleh sampai mengganggu kebutuhan lain, terutama pelayanan publik.
Hal yang sama berlaku untuk kebutuhan air.
“Kalau kebutuhan air, tidak boleh juga terganggu,” ujarnya.
Lokasi Data Center Harus Diperhitungkan
Meutya mengatakan, pembangunan data center tidak cukup hanya melihat ketersediaan lahan.
Pemerintah juga perlu memastikan apakah wilayah tersebut memiliki pasokan air dan energi yang mencukupi.
Kualitas konektivitas juga menjadi salah satu pertimbangan penting.
Karena itu, koordinasi antarinstansi diperlukan sebelum izin pembangunan diberikan.
Pemerintah nantinya perlu memetakan kebutuhan komputasi di Indonesia, jumlah pengguna internet, hingga wilayah yang memiliki jaringan telekomunikasi memadai.
“Penentuan titiknya juga harus ditentukan. Ada ketersediaan air atau tidak di situ, ada kebutuhan energi di situ, dan ada sinyalnya tidak di situ yang baik,” ujar Meutya.
Ia menegaskan Indonesia tidak boleh membangun data center secara berlebihan tanpa melihat kebutuhan dan kemampuan wilayah.
Menurutnya, pemilihan lokasi menjadi faktor penting agar keberadaan pusat data tidak menekan sumber daya yang dibutuhkan masyarakat.
