PurwakartaUpdate.com – Ada banyak cara menikmati keindahan Ngarai Sihanok di Bukittinggi, Sumatera Barat. Salah satunya dari Tapian Tabiang Barasok, kawasan wisata yang berada di tepi ngarai dan dikembangkan secara swadaya oleh para pemuda bersama masyarakat setempat.
Setelah melewati pintu masuk, pengunjung akan menemukan jalan berbatu yang harus dilalui dengan kendaraan secara perlahan. Menurut pengelola, jalan tersebut dibuat bukan tanpa alasan.
Permukaan berbatu itu salah satunya berfungsi untuk membantu mengurangi dampak aliran air hujan yang menuju ke kawasan wisata.
Tiket masuknya terbilang murah yakni Rp10 ribu per orang. Setelah membayar tiket, perjalanan bisa dilanjutkan dengan berjalan kaki menuju bagian dalam kawasan.
Saat tiba di dalam suasananya terasa seperti berada di tengah taman hutan. Terasa sejuk dengan Pepohonan yang cukup rindang, jalan setapak, serta aroma tanah membuat kawasan ini terasa nyaman untuk bersantai maupun sekadar berjalan-jalan.
Salah satu daya tarik utamanya berada di area tepi tebing. Dari sejumlah gazebo yang tersedia, pengunjung dapat melihat langsung bentang alam Ngarai Sihanok.
Ngarai Sihanok sendiri merupakan lembah panjang yang berkelok dan terbentuk secara alamiah akibat aktivitas lempeng bumi.
Pemandangan ngarai ini menjadi salah satu daya tarik wisata alam yang cukup dikenal di Sumatera Barat.
Menikmati pemandangan dari gazebo sambil merasakan udara sejuk tentu menjadi pengalaman tersendiri.
Apalagi kawasan Tapian Tabiang Barasok memiliki area pandang yang cukup luas ke arah Ngarai Sihanok.
Nama Tapian Tabiang Barasok juga memiliki makna tersendiri dalam bahasa Minangkabau. “Tapian” berarti tepi, “tabiang” berarti tebing, sedangkan “barasok” berarti berasap.
Nama tersebut berkaitan dengan lokasinya yang berada di tepian tebing Ngarai Sihanok.
Di salah satu bagian ngarai juga terdapat asap yang menjadi salah satu ciri kawasan tersebut.
Selain dari Tapian Tabiang Barasok, panorama Ngarai Sihanok sebenarnya dapat dinikmati dari beberapa lokasi lain di Bukittinggi.
Di antaranya Taman Panorama di kawasan Kayu Kubu dan Taman Ngarai Maaram di Bukit Apit.
Tapian Tabiang Barasok berada di kawasan Puhun Pintu Kabun.
Lokasinya berjarak sekitar 3,5 kilometer dari Jam Gadang yang selama ini dikenal sebagai salah satu ikon wisata Kota Bukittinggi.
Kawasan ini memiliki area yang cukup luas. Berdasarkan keterangan pengelola, lahan yang digunakan untuk kawasan wisata tersebut mencapai sekitar 3 hektare.
Fasilitas yang tersedia juga cukup beragam. Pengunjung bisa menemukan gazebo untuk bersantai, sejumlah spot foto dengan latar Ngarai Sihanok, serta bangunan terbuka seperti aula yang dapat digunakan untuk kegiatan bersama atau rombongan.
Bagi pengunjung yang menyukai aktivitas luar ruangan, tersedia pula area untuk kegiatan outbound, jalan setapak untuk trekking, hingga camping ground.
Berawal dari Inisiatif Pemuda
Tapian Tabiang Barasok bukanlah kawasan wisata yang dibangun dengan fasilitas serba instan. Perkembangannya berawal dari inisiatif para pemuda di Puhun Pintu Kabun.
Di kawasan tersebut sebelumnya sudah ada objek wisata Panorama Baru.
Keberadaan tempat itu kemudian menjadi salah satu inspirasi bagi kelompok pemuda yang tergabung dalam Pokdarwis untuk mengembangkan lahan lain yang memiliki pemandangan langsung ke Ngarai Sihanok.
Dengan keterbatasan yang ada, pembangunan kawasan wisata dilakukan secara swadaya.
Para pemuda mengumpulkan dana, mencari dukungan dari sponsor, serta mengajak masyarakat sekitar untuk ikut bergotong royong mengerjakan pembangunan.
Hingga kini, pengelolaan Tapian Tabiang Barasok masih dilakukan oleh kelompok Pokdarwis setempat. Pengembangan kawasan pun terus berjalan secara bertahap.
Berbagai fasilitas masih diperbaiki dan ditambah sesuai kebutuhan. Mulai dari renovasi sejumlah bagian kawasan hingga penambahan fasilitas untuk membuat pengunjung semakin nyaman.
Semangat warga dan para pemuda dalam membangun tempat wisata tersebut menjadi bagian menarik dari Tapian Tabiang Barasok.
Bukan hanya menawarkan pemandangan Ngarai Sihanok, kawasan ini juga menunjukkan bagaimana sebuah destinasi wisata bisa tumbuh dari inisiatif dan gotong royong masyarakat setempat.
