Ia menilai generasi muda perlu memiliki kepekaan sosial, mampu memahami persoalan secara menyeluruh, serta berkontribusi menghadirkan solusi di tengah dinamika masyarakat.
“Bagaimana mau menjadi generasi emas di tahun 2045, kalau para pemuda kita tidak mampu menjadi generasi yang solutif dan menjadi perekat kebersamaan,” ungkap Aa Komara.
Di sisi lain, ia menyayangkan konflik yang terus muncul akibat perbedaan ideologi maupun keyakinan. Menurutnya, kondisi tersebut dapat menghambat terciptanya kehidupan masyarakat yang harmonis.
Ia juga menekankan pentingnya sikap saling menghormati antara kelompok mayoritas dan minoritas tanpa kekhawatiran terhadap perbedaan keyakinan.
