“Menurut saya, salah satu pesan penting yang perlu kita gali dari Serat Niti Praja adalah bagaimana membangun kehidupan pemerintahan dan kebangsaan yang tidak hanya berjalan secara administratif, tetapi juga memiliki landasan etika dan moral. Demokrasi harus diiringi kedewasaan dalam bersikap, kepemimpinan harus berpijak pada tanggung jawab, dan kekuasaan harus diarahkan untuk kepentingan masyarakat. Pada akhirnya, seluruh dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara harus bermuara pada terciptanya kondusivitas, persatuan, dan kesejahteraan rakyat di semua bidang,” lanjutnya.
Pagar Nusa: Merawat Tradisi, Menghidupkan Nilai, dan Mengabdi kepada Masyarakat
Ketua PC Pagar Nusa Kabupaten Purwakarta, Kyai Yayan Ahmad Mustofa, dalam narasi pengantarnya menempatkan kegiatan Ngaji Siloka sebagai bagian dari tanggung jawab organisasi dalam merawat tradisi dan mengembangkan wawasan keilmuan.
Menurutnya, Pagar Nusa tidak hanya memiliki tanggung jawab dalam melestarikan seni dan bela diri pencak silat, tetapi juga perlu mengambil bagian dalam menjaga warisan budaya, nilai-nilai keislaman, dan tradisi intelektual yang tumbuh di lingkungan masyarakat.
“Pagar Nusa lahir dari tradisi pesantren dan memiliki tanggung jawab untuk menjaga warisan para ulama. Pengabdian seorang pendekar tidak hanya diwujudkan melalui kemampuan bela diri, tetapi juga melalui kepedulian terhadap ilmu pengetahuan, kebudayaan, sejarah, dan kehidupan masyarakat. Karena itu, tradisi harus terus dirawat dan nilai-nilainya harus tetap dihidupkan,” menjadi pesan yang diangkat dalam kegiatan tersebut.
