Dalam pengantarnya, Nendi Apriki Kusuma menyampaikan bahwa kegiatan Ngaji Siloka berangkat dari kesadaran bahwa warisan intelektual masa lalu tidak seharusnya berhenti sebagai benda peninggalan sejarah. Manuskrip perlu dibaca, dipahami, dikaji, dan dihubungkan dengan persoalan kehidupan masyarakat masa kini.
Menurutnya, Serat Niti Praja memiliki relevansi yang sangat kuat untuk menyikapi berbagai dinamika kehidupan berbangsa dan bernegara, baik dalam lingkup nasional maupun daerah. Kandungan pemikirannya dapat menjadi bahan refleksi dalam membangun etika demokrasi, etika kepemimpinan, moral politik, serta tanggung jawab penyelenggara pemerintahan terhadap rakyat.
“Serat Niti Praja bukan hanya menarik untuk dibaca sebagai peninggalan pemikiran masa lalu, tetapi juga sangat relevan untuk merefleksikan kondisi kehidupan berbangsa dan bernegara hari ini, baik di tingkat nasional maupun daerah. Di dalamnya terdapat nilai-nilai yang dapat kita dialogkan dengan persoalan etika demokrasi, etika kepemimpinan, dan Kompas moral penyelenggara pemerintahan. Bagaimana kekuasaan dijalankan, bagaimana seorang pemimpin menempatkan dirinya, bagaimana pejabat negara menjalankan amanah,” ungkap Nendi.
Ia menambahkan, dinamika kehidupan demokrasi tidak cukup hanya dibangun melalui mekanisme politik dan pergantian kepemimpinan, tetapi juga membutuhkan fondasi moral, kebijaksanaan, dan tanggung jawab bersama. Nilai-nilai tersebut penting untuk menciptakan kehidupan berbangsa yang kondusif, menjaga harmoni sosial, serta mendorong terwujudnya kesejahteraan rakyat di berbagai bidang kehidupan.
