Meski demikian, varian kencur tetap menjadi favorit pembeli yang mencari cita rasa otentik. Simping yang telah matang memiliki tekstur krispi menyerupai keripik tipis, namun lebih ringan saat digigit.
Camilan ini kerap menjadi teman berbuka puasa atau santap sahur karena tidak terlalu berat di perut.
Selama Ramadan, produksi meningkat signifikan. Mari mengaku bisa memproduksi hingga 100 bungkus per hari dengan total adonan sekitar 10 kilogram.
Setiap bungkus berisi 130 gram simping dijual seharga Rp10.000, naik dari harga normal Rp9.000 di luar bulan puasa.
Kenaikan harga tersebut, menurutnya, disesuaikan dengan naiknya harga bahan baku yang hampir selalu terjadi saat Ramadan.
“Biasanya setelah Lebaran harga bahan turun lagi, jadi harga simping juga kembali Rp9.000 per bungkus,” katanya.
Pantauan di lapak penjual menunjukkan pembeli didominasi warga pendatang yang hendak mudik atau berziarah. Simping kerap diborong sebagai oleh-oleh khas Purwakarta. Penjualan juga meningkat saat musim ziarah ke Makam Baing Yusuf dan makam ulama lainnya di sekitar Masjid Agung Purwakarta.
Selain dimakan langsung, simping juga bisa dikreasikan. Beberapa pembeli menjadikannya sandwich dengan isian gulali arum manis atau permen rambut nenek yang dijepit dua lembar simping rasa manis. Sementara untuk varian kencur, Mari punya cara unik menikmatinya.
“Kalau saya, simping rasa kencur itu enaknya diolesi selai nanas. Rasanya jadi unik, boleh dicoba di rumah,” ujar Mari.(*)
