Teksturnya tipis dan renyah, dengan warna putih kekuningan untuk rasa original, serta warna-warna cerah seperti hijau pandan dan cokelat untuk varian modern.
Salah satu produsen yang masih bertahan adalah Simping Rahayu milik Mari Maryani (64), warga Kampung Kaum, Kelurahan Cipaisan, Kecamatan Purwakarta. Di rumah produksinya yang sederhana, proses pembuatan simping masih dilakukan secara tradisional.
Adonan cair berbahan dasar tepung terigu, tapioka, santan, daun bawang, garam, dan kencur dituangkan ke dalam cetakan khusus berbentuk bulat pipih, lalu dipanggang di atas tungku dengan api kecil.
Dalam hitungan menit, lembaran simping mengering dan diangkat satu per satu untuk ditiriskan sebelum dikemas.
“Saya dan suami mulai membuat dan menjual simping sejak tahun 1990-an. Dulu suka dipasarkan sampai Plered, Darangdan bahkan Cikampek. Sekarang setelah suami meninggal, saya jual di pusat oleh-oleh sekitar Alun-alun saja,” ujar Mari, Pada Jumat, 6 Maret 2026.
Rasa asli Simping Kaum cenderung gurih dan sedikit asin, dengan aroma kencur yang cukup dominan. Namun mengikuti selera pasar, kini hadir berbagai varian seperti pandan, stroberi, nangka, hingga cokelat.






