Namun, ia memberikan satu catatan penting. Menurut Dedi, masyarakat Purwakarta yang selama ini berada di sekitar kawasan Jatiluhur harus tetap mendapatkan akses air yang cukup.
“Tapi satu catatan, warga Purwakarta yang berkorban untuk kepentingan Jatiluhur harus mendapat akses air. Tidak boleh terganggu,” kata Dedi.
Selain masalah perizinan, persoalan kebutuhan air juga sempat menjadi perhatian dalam pembangunan data center AI tersebut.
Dedi menjelaskan, secara kapasitas, pasokan air dari Waduk Jatiluhur masih cukup besar.
Ia menyebut kebutuhan proyek tidak serta-merta akan mengurangi jatah air yang selama ini diperuntukkan bagi masyarakat.
Menurutnya, PDAM Kabupaten Purwakarta memiliki alokasi resmi sebesar 3.000 liter air per detik dari Waduk Jatiluhur.
Namun, selama puluhan tahun, pemanfaatannya baru berada di angka sekitar 380 liter per detik.
“Kalau dari jatah yang diberikan dari 100 persen baru dipakai 11 persen, berarti ada 89 persen air yang tidak dimanfaatkan oleh PDAM. Sekarang dipakai lagi sebanyak 14 persen oleh perusahaan. Masih kurang apa nyisa? Nyisa. Sederhana,” ujar Dedi.
Sementara itu, kunjungan langsung ke lokasi proyek dilakukan Dedi untuk memastikan pembangunan pusat data tersebut memenuhi berbagai aspek keamanan dan kesiapan infrastruktur.
Selain memastikan ketersediaan air dan listrik, Dedi juga ingin melihat kondisi lahan yang digunakan.
Pemeriksaan tersebut mencakup potensi risiko bencana seperti banjir, gempa bumi, hingga ancaman erupsi gunung berapi.
Dengan adanya pemeriksaan dan kajian tersebut, pemerintah daerah akan menentukan langkah berikutnya terkait kelanjutan pembangunan data center AI di Jatiluhur.
