Mengutip laporan dariThe Guardian, operasi tersebut diduga menggunakan sekitar 1.000 akun X.
Pelaku juga membuat portal berita palsu bernama Malaysia Pulse serta sejumlah dokumen yang diduga tidak benar.
Targetnya adalah calon pemilih di Malaysia. Operasi tersebut disebut memanfaatkan data sensus dan data pemilih dari 222 daerah pemilihan parlemen.
Konten yang dibuat juga menyentuh sejumlah isu politik dan sosial yang sensitif.
Termasuk persoalan suku, agama, ras, dan antargolongan atau SARA.
Peneliti dari University of Nottingham Asia Research Institute Malaysia, Bridget Welsh, menilai kondisi tersebut dapat memperbesar polarisasi politik.
Menurutnya, penyebaran konten semacam itu bisa membuat masyarakat semakin terpecah karena masing-masing kelompok mendapatkan informasi yang memperkuat pandangan mereka sendiri.
Berita Asli Ditulis Ulang dengan Bantuan AI
Laporan Anthropic juga menemukan bahwa sejumlah media palsu mengambil berita dari media Malaysia.
Berita tersebut kemudian diproses menggunakan AI dan ditulis ulang beberapa kali sebelum dipublikasikan kembali menggunakan nama samaran.
Tidak hanya media lokal, sejumlah sumber dari media asing juga digunakan. Di antaranya TV BRICS, Xinhua, Sputnik/RIA, dan CGTN.
Konten dari sumber-sumber tersebut disebut dipublikasikan kembali tanpa mencantumkan sumber aslinya.
Operasi tersebut akhirnya dihentikan setelah Anthropic mengambil tindakan dan menghapus akun-akun yang terkait.
