Padahal sebelumnya, harga minyak sempat melemah setelah Presiden AS Donald Trump mengaku tengah berdiskusi dengan pihak Iran dan menjamin tidak ada serangan militer hingga pemilihan paruh waktu di AS selesai.
Di sisi lain, pemerintah Iran dikabarkan sedang meninjau tanggapan AS terkait proposal pembukaan kembali Selat Hormuz dalam waktu tujuh hari. Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araqchi, menyatakan akan memberikan jawaban resmi atas tanggapan AS tersebut dalam beberapa hari ke depan.
Meski jalur diplomasi tetap berjalan, AS melangkah tegas dengan menjatuhkan sanksi baru pada Kamis lalu. Sanksi ini menyasar individu, jaringan bisnis, serta 17 kapal pengangkut minyak mentah, produk minyak, dan petrokimia asal Iran.
Eskalasi wilayah pun kian meluas. Prancis dan Arab Saudi dikabarkan sedang mengkaji opsi pengerahan aset militer untuk mengamankan terminal minyak Yanbu.
Di saat bersamaan, Suriah mempertimbangkan opsi bantuan militer kepada Arab Saudi dalam konfliknya dengan Houthi, baik berupa bantuan defensif maupun pengerahan pasukan ofensif untuk membantu pasukan Yaman yang didukung Saudi.
Gangguan Pasokan Selat Hormuz dan Respons IEA
Ancaman terhadap pengiriman minyak di kawasan Teluk dan Selat Hormuz meningkat signifikan sepanjang Oktober. Jalur vital ini menyalurkan sekitar 20% dari total pasokan minyak dan bahan bakar dunia sebelum konflik membesar.
Pekan lalu, frekuensi serangan terhadap kapal tanker yang melintasi Selat Hormuz melesat ke titik tertinggi sejak perang dimulai, meski negara-negara produsen di kawasan Teluk mulai meningkatkan volume ekspor mereka.
“Frekuensi serangan Iran terhadap kapal kini berada pada titik tertinggi sejak perang dimulai, dan kemungkinan akan semakin meningkat,” ungkap Kepala Energi MST Marquee, Saul Kavonic.
Merespons ketegangan ini, Badan Energi Internasional (IEA) menyepakati percepatan pelepasan cadangan minyak darurat dan memprioritaskan pasokan diesel. Langkah ini diambil untuk membantu pemerintah berbagai negara menghadapi lonjakan harga bahan bakar dan ancaman gangguan pasokan akibat perang.
Badai Isaias Lumpuhkan Produksi Migas Teluk Meksiko
Selain sentimen geopolitik, cuaca buruk di AS turut memperparah situasi pasar. Badai Isaias terpantau bergerak mendekati area produksi lepas pantai AS, memaksa sejumlah perusahaan migas menutup anjungan mereka.
Produsen minyak dan gas di Teluk Meksiko AS tercatat telah menghentikan produksi sekitar 1,3 juta barel per hari, atau setara 62,9% dari total produksi minyak di kawasan tersebut.
Raksasa energi seperti Shell dan Chevron telah mengisaratkan pengurangan operasi lepas pantai sejak Rabu (7/10).
Sementara itu, BP memilih memberhentikan seluruh personel dan menghentikan total produksi di platform Na Kika dan Thunder Horse demi keselamatan pekerja.***
