Artinya, meskipun pasar memperkirakan suku bunga akan ditahan dalam waktu dekat, kemungkinan adanya pengetatan tambahan pada akhir tahun masih cukup besar.
Ekonom iklim dan komoditas Capital Economics, Hamad Hussain, juga menilai kenaikan harga minyak berpotensi membuat tingkat suku bunga riil bertahan tinggi lebih lama.
“Kenaikan harga minyak dapat menyebabkan suku bunga riil tetap tinggi lebih lama, sehingga mengurangi daya tarik relatif untuk berinvestasi dan menyimpan emas,” ujar Hussain, dikutip dari Reuters.
Sementara itu, kondisi pasar tenaga kerja AS yang masih relatif kuat turut memberikan ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneternya.
Berdasarkan laporan Kitco, jumlah pengajuan awal tunjangan pengangguran AS untuk pekan yang berakhir pada 17 Oktober 2026 turun menjadi 194.000, lebih rendah dibandingkan perkiraan pasar sebesar 200.000.
Angka tersebut sekaligus menjadi yang terendah sejak akhir Juli 2026.
Dengan pasar tenaga kerja yang belum menunjukkan pelemahan signifikan, The Fed dinilai memiliki ruang lebih besar untuk memprioritaskan pengendalian inflasi.***
