Akibatnya, bank sentral AS (The Federal Reserve/The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi, bahkan kembali menaikkannya untuk meredam kenaikan harga barang.
Kondisi inilah yang menjadi tantangan bagi emas. Pasalnya, emas tidak memberikan imbal hasil berupa bunga, sehingga daya tariknya bisa berkurang ketika instrumen lain menawarkan tingkat pengembalian yang lebih tinggi.
Analisis Pasar
Analis pasar American Gold Exchange, Jim Wyckoff, mengatakan meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi membuat ruang bagi bank-bank sentral dunia untuk melonggarkan kebijakan moneternya semakin terbatas.
“Meningkatnya kekhawatiran terhadap inflasi menunjukkan bahwa bank-bank sentral utama dunia tidak akan bisa melonggarkan kebijakan moneternya secepat yang mereka inginkan.
Semua itu saat ini menjadi tekanan bagi pihak yang mengharapkan kenaikan harga emas dan perak,” ujar Wyckoff, dikutip dari Reuters.
Kekhawatiran tersebut semakin diperkuat oleh perkembangan data ekonomi AS.
Data inflasi konsumen dan produsen AS yang dirilis pada pekan sebelumnya tercatat lebih tinggi dari perkiraan pasar.
Kondisi ini turut memperbesar ekspektasi bahwa The Fed masih perlu mempertahankan kebijakan moneter yang ketat.
Berdasarkan perangkat CME FedWatch Tool, pelaku pasar memperkirakan probabilitas sebesar 92% bahwa The Fed akan mempertahankan suku bunga pada pertemuan 27-28 Oktober 2026.
Namun, peluang kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember justru mencapai 78%.
