PurwakartaUpdate.com – Perjalanan harga emas dunia sepanjang pekan ini berakhir kurang menggembirakan. Alih-alih bangkit, harga emas justru kembali jatuh hingga menembus ke bawah level psikologis US$4.000 per troy ons.
Merujuk data Refinitiv, harga emas dunia pada perdagangan Jumat (23/10/2026) ditutup melemah 0,71% ke posisi US$3.995,52 per troy ons. Posisi ini menjadi yang terendah sejak 20 Juli 2026, atau dalam tiga bulan terakhir.
Pelemahan tersebut melanjutkan penurunan tajam pada perdagangan Kamis sebelumnya, ketika harga emas terperosok hingga 2,81%. Dengan demikian, emas telah mencatatkan pelemahan selama dua hari perdagangan beruntun.
Adapun, secara mingguan kinerja emas juga tidak kalah buruk. Sepanjang perdagangan pekan ini, harga emas dunia anjlok 4,07%, sekaligus memperpanjang tren pelemahan mingguan menjadi dua pekan berturut-turut.
Penurunan tersebut juga menjadi yang terdalam sejak Juni 2026 atau dalam sekitar empat bulan terakhir.
Penyebab Harga Emas Tertekan
Tekanan terhadap harga emas dunia kali ini tidak terlepas dari perkembangan konflik di Timur Tengah yang kembali mendorong lonjakan harga minyak, sekaligus meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi global.
Harga minyak mentah Brent bahkan sempat menyentuh posisi tertingginya dalam lebih dari lima bulan pada perdagangan Jumat (23/10/2026).
Kenaikan harga minyak terjadi setelah serangan kelompok Houthi di Arab Saudi memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan energi yang lebih luas dari kawasan Timur Tengah.
Kondisi tersebut semakin memperbesar kekhawatiran bahwa inflasi, khususnya di Amerika Serikat (AS), akan sulit turun dalam waktu dekat.
Di satu sisi, emas selama ini dikenal sebagai aset yang banyak diburu investor ketika ketidakpastian geopolitik meningkat. Logam mulia tersebut juga sering digunakan untuk melindungi nilai kekayaan dari tekanan inflasi.
Namun, situasi yang terjadi saat ini justru berbeda.
Lonjakan harga minyak berpotensi membuat biaya energi, transportasi, hingga produksi barang semakin mahal. Jika kondisi ini terus berlangsung, tekanan inflasi dapat bertahan lebih lama.
