Salah satu kemungkinan penyebabnya adalah adanya jeda waktu antara turunnya hujan dan sampainya air ke lapisan tanah yang menyimpan air dalam jumlah besar. Proses ini dikenal sebagai lag time.
Air hujan tidak langsung mencapai sumber air tanah bagian dalam.
Air harus terlebih dahulu meresap melewati lapisan tanah yang belum jenuh air sebelum mencapai akuifer.
Akuifer merupakan lapisan tanah atau batuan yang dapat menyimpan sekaligus mengalirkan air.
Secara umum, terdapat akuifer dangkal yang dekat dengan permukaan dan akuifer dalam yang berada di bawah lapisan kedap air.
Menurut Sriyana, lambatnya pergerakan air pada lapisan tanah bagian atas bisa membuat air hujan membutuhkan waktu cukup lama untuk mencapai akuifer dalam.
Akibatnya, air yang meresap selama musim penghujan mungkin baru terkumpul dan mencapai lapisan tersebut ketika musim kemarau telah berlangsung.
” Saat musim kemarau, air yang meresap selama berbulan-bulan sepanjang musim hujan baru saja tiba dan berkumpul di lapisan akuifer tertekan. Akibatnya, debit atau aliran air tanah justru memuncak saat di permukaan sudah memasuki musim kemarau,” jelasnya.
Penjelasan tersebut menjadi salah satu dugaan ilmiah untuk memahami keunikan Kali Odo.
Namun, penyebab pastinya masih memerlukan kajian lebih lanjut untuk memastikan mekanisme yang membuat aliran airnya berlawanan dengan pola musim pada umumnya.
