Ia juga menceritakan bahwa hujan yang disertai petir kerap menjadi pertanda berhentinya aliran air di Kali Odo.
“Begitu ada hujan petir, besoknya kita ke sini (Kali Odo), langsung hilang (airnya). Surut, benar-benar enggak ada air lagi sama sekali, kering,” ujarnya.
Warga Punya Tradisi Khusus
Hingga kini, penyebab pasti fenomena tersebut belum diketahui oleh warga setempat. Mereka menganggap keunikan Kali Odo sebagai salah satu bentuk kuasa Tuhan.
Meski begitu, warga memiliki tradisi tersendiri untuk menjaga kawasan sungai tersebut.
Menjelang musim kemarau, warga biasanya bergotong royong membersihkan sungai dari sampah yang menumpuk selama aliran air menghilang.
Ketika mata air kembali mengalir, masyarakat menggelar sadranan sebagai bentuk rasa syukur atas kembalinya air.
Tradisi ini menjadi bagian dari kebiasaan masyarakat setempat yang terus dipertahankan hingga sekarang.
Pakar Ungkap Kemungkinan Penyebabnya
Fenomena Kali Odo juga mendapat perhatian dari kalangan akademisi. Guru Besar Keairan Teknik Sipil Universitas Diponegoro, Profesor Ign Sriyana, menyebut kejadian tersebut sebagai anomali hidrologi.
Fenomena ini terbilang tidak lazim karena debit air tanah justru mengecil saat musim hujan, kemudian meningkat ketika musim kemarau.
“Dari hasil pantauan di lapangan, terjadi fenomena yang tidak lazim. Di mana pada saat musim hujan, volume air tanah tersebut airnya mengecil, bahkan tidak mengalir. Namun, alirannya justru membesar saat musim kemarau,” jelas Sriyana.
