Ia menilai keguyuban merupakan sebuah keniscayaan dalam menjalani kehidupan yang ideal.
“Jangan lupa pula bahwa setelah nama almamater itu ada nama PURWAKARTA. Baik IKA SMANDA, IKA SPENDA, IKA SPENSA, IKA SMANSA, IKA SMANTI, di belakangnya kan ada nama PURWAKARTA. Notabene nama ini secara de facto dan de jure adalah sebuah identitas diri bagi warga Purwakarta,” kata Aa Komara.
Menurutnya, nama Purwakarta dapat menjadi simbol pemersatu sekaligus pengikat hubungan emosional seluruh warga tanpa membedakan latar belakang almamater.
“‘Brand’ PURWAKARTA inilah sebagai simbol pemersatu dan pengikat hubungan emosional bagi seluruh warga Purwakarta tanpa membedakan latar belakang almamaternya,” ujarnya.
“Warga Purwakarta sejatinya akan tergetar batinnya begitu mendengar, membaca dan menyebut nama PURWAKARTA. Maka ketika tercantum nama PURWAKARTA, hakikatnya adalah sebuah panggilan dari jiwa korsa yang sama untuk saling guyub dan saling berkontribusi yang terbaik bagi kabupaten ini, sekecil apa pun peran dan kemampuan kita,” lanjutnya.
