Chico mengatakan pemantauan terbaru menunjukkan sebaran asap mulai bergerak menjauh dari wilayah Jawa bagian barat, termasuk Jabodetabek, seiring perubahan pola angin.
Meski demikian, pemerintah tetap mewaspadai kondisi udara Jakarta karena pencemaran tidak hanya dipengaruhi asap karhutla.
Emisi kendaraan bermotor, aktivitas industri, dan kondisi musim kemarau juga menjadi faktor yang perlu diperhatikan.
Sejumlah titik pemantauan Indeks Standar Pencemar Udara (ISPU) di Jakarta masih menunjukkan kategori sedang hingga tidak sehat.
Partikulat halus PM2.5 menjadi salah satu parameter yang perlu diperhatikan karena partikel berukuran kecil ini dapat masuk ke saluran pernapasan.
Untuk mengantisipasi kondisi tersebut, Pemprov DKI menyiapkan dan mengaktifkan penyemprotan water mist melalui 179 perangkat yang terpasang di 145 gedung.
