Edy juga mengingatkan pentingnya menyiapkan tas siaga bencana untuk memenuhi kebutuhan dasar selama keadaan darurat.
Tas tersebut dapat berisi air minum, makanan tahan lama, pakaian, dokumen penting, alat komunikasi, senter, peluit, perlengkapan pertolongan pertama, dan uang tunai secukupnya.
Persiapan ini akan membantu keluarga bertindak lebih cepat tanpa harus mengumpulkan berbagai barang ketika keadaan sudah berbahaya.
Perhatian khusus juga perlu diberikan kepada anak-anak, lansia, ibu hamil atau menyusui, penyandang disabilitas, serta anggota keluarga yang sedang sakit.
Jika gempa terjadi pada malam hari, warga diminta melindungi diri selama guncangan berlangsung.
Setelah gempa berhenti, bangunkan anggota keluarga dan tetangga jika memungkinkan, kemudian segera bergerak menuju lokasi aman.
Senter dapat digunakan untuk membantu perjalanan ketika kondisi gelap.
Meski begitu, warga tidak boleh menunda evakuasi hanya untuk mengambil barang-barang yang tidak mendesak.
Ancaman tsunami tidak hanya perlu diantisipasi oleh warga yang tinggal di pesisir.
Wisatawan yang berkunjung ke Pangandaran, Palabuhanratu, dan kawasan pantai lainnya juga harus memahami prosedur penyelamatan diri.
BPBD Jabar menyebut edukasi kepada wisatawan dapat dilakukan melalui brosur, leaflet, serta pengeras suara di pos pengawasan pantai.
Pengelola hotel, restoran, dan tempat wisata juga perlu memiliki prosedur evakuasi yang jelas dan menyampaikannya kepada pengunjung.
Informasi keselamatan harus membantu wisatawan mengetahui tindakan yang perlu dilakukan ketika gempa terjadi, termasuk jalur menuju tempat yang lebih tinggi.
Apabila gempa kuat atau berlangsung lama mengguncang kawasan pantai, aktivitas wisata perlu dihentikan dan pengunjung segera diarahkan menjauhi garis pantai.
Petugas keamanan, polisi, BPBD, relawan, pengelola wisata, dan masyarakat setempat perlu bekerja sama untuk mengatur proses evakuasi.
Pengeras suara dapat dimanfaatkan untuk memberikan instruksi singkat, sementara petugas membantu mengarahkan pengunjung agar tidak menumpuk di satu titik.
Warga lokal dan pedagang juga bisa membantu wisatawan yang belum mengenal jalur evakuasi.
Dalam situasi darurat, pengunjung sebaiknya tidak kembali ke hotel atau kendaraan hanya untuk mengambil barang pribadi jika tindakan tersebut dapat menunda penyelamatan.
Edy menekankan bahwa evakuasi massal perlu diatur dengan baik, terutama untuk membantu anak-anak, lansia, penyandang disabilitas, dan wisatawan yang terpisah dari rombongannya.
BPBD Jawa Barat menilai kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi ancaman tsunami megathrust masih perlu diperkuat.
Menurut Edy, edukasi dan simulasi kebencanaan harus terus dilakukan agar masyarakat memahami risiko serta mampu mengambil tindakan dengan cepat.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui sosialisasi yang lebih luas, pembentukan tim siaga bencana di tingkat desa dan RW, serta peningkatan kesiapan pengelola hotel, restoran, dan kawasan wisata.
Penambahan rambu evakuasi dan penentuan titik kumpul juga perlu disesuaikan dengan kondisi masing-masing wilayah.
Edy menegaskan bahwa kesiapsiagaan bukan hanya tanggung jawab pemerintah.
Masyarakat dan pengelola tempat wisata juga harus mengambil peran dalam memastikan setiap orang mengetahui langkah penyelamatan diri.
Dengan memahami prosedur evakuasi dan tidak menunda tindakan ketika gempa kuat terjadi, risiko korban jiwa akibat potensi tsunami di kawasan pesisir diharapkan dapat ditekan.
