Edy menegaskan, warga masyarakat harus segera mengambil tindakan jika merasakan gempa kuat atau berlangsung lama di wilayah pesisir.
Saat guncangan terjadi, warga diminta melindungi kepala dan tubuh dengan menerapkan langkah Drop, Cover, Hold On, yakni merendahkan tubuh, berlindung, dan berpegangan sampai guncangan berhenti.
Setelah kondisi memungkinkan, warga harus segera menjauhi pantai dan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi atau titik evakuasi yang telah ditentukan.
Jika sirene tidak berbunyi, masyarakat dapat menyampaikan peringatan melalui sarana yang tersedia di lingkungan sekitar.
Misalnya, menggunakan kentongan di pos ronda, pengeras suara masjid, pengeras suara kantor RW, maupun grup WhatsApp warga.
Menurut Edy, cara tersebut penting untuk membantu menyebarkan informasi ketika listrik atau jaringan komunikasi terganggu akibat gempa.
Sarana peringatan manual yang tidak membutuhkan listrik juga dapat digunakan untuk memberi tahu warga agar segera meninggalkan kawasan berbahaya.
Selain gempa kuat, masyarakat perlu mewaspadai perubahan permukaan air laut yang tidak biasa serta suara gemuruh dari arah laut.
Namun, warga tidak perlu menunggu tanda tambahan jika sudah merasakan gempa kuat atau lama di kawasan pesisir.
Bagi masyarakat yang belum mengetahui jalur evakuasi, Edy mengimbau agar segera menjauhi pantai dan sungai, kemudian bergerak menuju daerah yang lebih tinggi.
BPBD Jabar mendorong keluarga di kawasan rawan bencana untuk memiliki rencana evakuasi mandiri melalui program Keluarga Tangguh Bencana (KATANA).
Setiap keluarga perlu menentukan titik kumpul, memahami jalur menuju tempat aman, serta memastikan seluruh anggota rumah tangga mengetahui tindakan yang harus dilakukan ketika bencana terjadi.
