“Kalau di Kalimantan itu sekitar 57.000 spesies orang utan itu terdampak, dari 57.000 itu yang 60 persen-nya itu betul-betul sangat terdampak akibat kebakaran hutan karena mereka itu kehilangan habitat,” ungkapnya.
Angka tersebut menunjukkan besarnya persoalan yang perlu diperhatikan. Namun, data dan cakupan populasi yang dimaksud tetap perlu diperiksa kembali agar tidak menimbulkan kesalahpahaman.
Wisnu juga memperkirakan jumlah satwa liar yang mati akibat kebakaran bisa lebih besar daripada angka yang tercatat secara resmi.
Salah satu penyebabnya adalah keterbatasan pemantauan di kawasan hutan yang luas. Satwa yang mati di bagian dalam hutan belum tentu ditemukan oleh petugas.
Dalam keterangannya, ia menyebut habitat orangutan tersebar di kawasan yang luas, termasuk sekitar 1,9 juta hektare di Kalimantan dan 1,1 juta hektare di Sumatra.
Luasnya wilayah tersebut membuat pendataan dampak kebakaran terhadap seluruh satwa menjadi tantangan tersendiri.
“Itu (satwa) yang di tengah (hutan) enggak pernah terpantau, yang ada di tengah tuh enggak pernah ditemukan berapa yang mati. Sehingga asumsi kita sebetulnya banyak sekali kematian pada satwa-satwa liar yang ada di dalam hutan,” tandas Wisnu.
Karena itu, dampak karhutla terhadap satwa liar tidak bisa hanya dilihat dari luas hutan yang terbakar. Kerusakan sumber makanan, hilangnya tempat tinggal, serta kematian satwa yang tidak terpantau juga menjadi persoalan penting dalam upaya pemulihan lingkungan.
