Wisnu menjelaskan, hutan yang mulai ditumbuhi tanaman baru belum tentu bisa langsung menjadi habitat yang layak bagi satwa liar.
Jenis tumbuhan yang tumbuh setelah kebakaran bisa berbeda dari vegetasi sebelumnya. Akibatnya, tanaman yang tersedia belum tentu dapat memenuhi kebutuhan makanan satwa yang tinggal di kawasan tersebut.
Jika sumber makanan menghilang, satwa akan menghadapi kesulitan untuk bertahan hidup.
“Kita terancam kehilangan satu generasi yang artinya tidak ada makanan bagi mereka. Karena kan tumbuhannya itu belum tentu dia tumbuh tanaman yang kayak dulu. Mungkin tanaman-tanaman yang baru yang tidak dia perlukan,” ungkap Wisnu.
Kerusakan habitat tidak hanya membuat satwa kesulitan mendapatkan makanan. Kondisi ini juga dapat mendorong mereka keluar dari hutan untuk mencari sumber makanan lain.
Satwa liar berpotensi masuk ke kawasan permukiman, perkebunan, hingga lahan pertanian milik warga.
Situasi tersebut bisa meningkatkan risiko konflik antara manusia dan satwa liar. Di sisi lain, satwa yang kehilangan tempat tinggal juga menghadapi tekanan lebih besar untuk bertahan hidup.
Kalimantan menjadi salah satu wilayah yang mendapat perhatian karena dampak karhutla terhadap satwa liar di kawasan tersebut.
Wisnu menyebut orangutan, bekantan, berbagai jenis primata, burung, hingga mamalia kecil sebagai satwa yang terancam akibat kerusakan habitat.
Ia menyampaikan bahwa dari sekitar 57.000 orangutan yang disebut dalam keterangannya, sekitar 60 persen terdampak sangat serius akibat kebakaran hutan dan kehilangan habitat.
