Menurut Edy, masyarakat harus memahami langkah penyelamatan diri agar tidak kehilangan waktu saat menghadapi situasi darurat.
Begini Cara Kenali Tanda Potensi Tsunami
Ada beberapa tanda yang perlu diperhatikan masyarakat, terutama mereka yang berada di wilayah pesisir.
1. Gempa terasa sangat kuat atau berlangsung lama
Gempa bumi yang kuat atau berlangsung cukup lama di kawasan pesisir harus menjadi peringatan untuk segera bersiap menyelamatkan diri.
Saat gempa terjadi, lindungi kepala dan tubuh dari benda yang berpotensi jatuh. Setelah guncangan berhenti, segera tinggalkan kawasan pantai dan bergerak menuju tempat yang lebih tinggi.
2. Air laut tiba-tiba surut
Perubahan permukaan air laut yang terjadi secara tidak biasa, termasuk surut secara mendadak, dapat menjadi salah satu tanda bahaya tsunami.
Jika melihat kondisi tersebut setelah gempa, jangan mendekati pantai untuk melihat fenomena itu. Segera menjauh dan menuju tempat evakuasi.
3. Air laut naik secara tidak biasa
Selain surut mendadak, kenaikan permukaan air laut yang tidak wajar juga perlu diwaspadai.
Masyarakat sebaiknya tidak menunggu sampai gelombang terlihat besar untuk mulai menyelamatkan diri.
4. Terdengar suara gemuruh dari arah laut
Suara gemuruh yang tidak biasa dari arah laut juga bisa menjadi tanda bahaya.
Jika kondisi tersebut muncul setelah gempa kuat, warga pesisir perlu segera menjauh dari pantai dan mengikuti jalur evakuasi yang tersedia.
5. Hewan menunjukkan perilaku tidak biasa
Edy juga menyebut perilaku hewan, seperti burung yang beterbangan atau monyet yang berlarian menuju permukiman, sebagai hal yang dapat diperhatikan.
Namun, perilaku hewan bukan indikator tsunami yang dapat diandalkan secara mandiri.
Masyarakat tetap perlu mengutamakan tanda bahaya yang lebih jelas, terutama gempa kuat atau lama di kawasan pesisir.
Sirene Tidak Berbunyi? Warga Bisa Gunakan Kentongan
Edy mengingatkan kepada masyarakat agar tidak sepenuhnya bergantung pada sirene atau peringatan resmi.
Jika terjadi gempa sangat kuat atau berlangsung lama di wilayah pesisir, warga harus segera mengambil tindakan.
Jangan menunggu informasi tambahan apabila kondisi sudah menunjukkan potensi bahaya.
Apabila sirene tidak berbunyi, peringatan dapat disampaikan melalui sarana komunikasi yang tersedia di lingkungan masyarakat.
“Jika peringatan atau sirene resmi tidak berbunyi setelah gempa kuat, masyarakat pesisir bisa mengaktifkan peringatan berbasis komunitas, seperti kentongan di pos ronda, pengeras suara masjid, pengeras suara di kantor RW, maupun grup WhatsApp warga,” ujar Edy.
Menurutnya, sistem peringatan berbasis komunitas juga penting ketika listrik atau jaringan komunikasi mengalami gangguan.
Kentongan dan pengeras suara dapat membantu menyampaikan informasi kepada warga sekitar agar proses evakuasi berlangsung lebih cepat.
