Peminat Kuliah ke Al-Azhar Tinggi
Menurut Amien, minat pelajar Indonesia untuk melanjutkan pendidikan di Universitas Al-Azhar cukup besar. Ribuan lulusan disebut tertarik menempuh studi di perguruan tinggi yang berada di Kairo tersebut.
Penerimaan mahasiswa Indonesia tersedia melalui jalur beasiswa maupun nonbeasiswa. Namun, calon mahasiswa tetap harus memenuhi persyaratan akademik yang ditetapkan.
“Meskipun nonbeasiswa itu pun juga ada standardisasi yang tidak boleh sembarangan, tetap ada standar kompetensi, bahasa, dan tentu saja moderasi beragama diprioritaskan,” kata Amien.
Saat ini, Kemenag memiliki jalur khusus untuk mengirimkan calon mahasiswa Indonesia melalui program beasiswa. Namun, berdasarkan dari keterangan Amien, kuota yang tersedia baru sekitar 20 orang.
Karena itu, pemerintah berharap jumlah penerima beasiswa dapat ditingkatkan. Kepastian mengenai kuota baru akan dibahas lebih lanjut saat tim Universitas Al-Azhar berkunjung ke Indonesia.
Selain membahas penambahan beasiswa, Kemenag dan Universitas Al-Azhar juga memperluas kerja sama akademik.
Kerja sama tersebut mencakup empat rencana utama, yakni program gelar ganda atau double degree, kuliah jarak jauh, riset bersama, dan pertukaran tenaga pendidik.
Kesepakatan awal kerja sama itu ditandatangani Menteri Agama Nasaruddin Umar bersama Wakil Al-Azhar Asy-Syarif, Asy-Syekh Ayman Abdul Ghani, secara hibrida pada Senin (12/10/2026).
Melalui skema double degree, mahasiswa jenjang sarjana direncanakan dapat menjalani sebagian masa kuliah di Indonesia dan sebagian lainnya di Mesir. Dengan skema tersebut, mahasiswa berpeluang memperoleh dua ijazah sesuai ketentuan program yang disepakati.
“Misalnya dalam 4 tahun itu untuk kepentingan S1, maka 2 tahunnya bisa di Indonesia, 2 tahunnya bisa di Mesir, Al-Azhar. Nah, ini yang kemudian nanti detail-detailnya akan kami tuangkan dalam bentuk PKS (perjanjian kerja sama),” ujar Amien.
Kuliah Al-Azhar Bisa Diakses dari Indonesia
Kerja sama yang direncanakan juga mencakup pembelajaran jarak jauh. Skema ini memungkinkan mahasiswa mengikuti perkuliahan tanpa harus datang langsung ke Mesir, jika nantinya disetujui dan memenuhi persyaratan akademik.
Namun, pelaksanaannya masih memerlukan pembahasan lebih lanjut. Kemenag perlu memastikan sistem pembelajaran tetap sesuai dengan standar Universitas Al-Azhar.
“Kenapa harus kami diskusikan lebih detail tentang rambu-rambu itu, tentu yang nomor wahid akan kita siapkan adalah mahasiswa yang punya kompetensi sesuai dengan standarnya Al-Azhar,” jelas Amien.
Kemenag juga membuka peluang melibatkan alumni Al-Azhar yang memiliki kompetensi untuk mendukung persiapan mahasiswa di Indonesia.
Mereka berpotensi dilibatkan melalui perguruan tinggi keagamaan, Ma’had Aly, maupun pondok pesantren yang memenuhi kualifikasi.
Dengan perluasan kerja sama ini, Kemenag berharap kesempatan pendidikan bagi mahasiswa Indonesia semakin beragam. Meski begitu, penambahan kuota beasiswa dan penerapan skema baru masih menunggu pembahasan teknis serta kesepakatan lebih lanjut dengan pihak Universitas Al-Azhar.
