“Tidak hanya bergantung pada KIP-K, beberapa kampus mitra sangat responsif dengan mengakomodir anak-anak KPM PKH melalui Beasiswa Yayasan. Selain itu, kami juga menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak filantropi untuk menopang kebutuhan pendidikan mereka,” kata Agus.
Kerja sama ini diharapkan dapat memperluas akses pendidikan bagi keluarga prasejahtera, terutama bagi calon mahasiswa yang membutuhkan dukungan biaya kuliah.
Politeknik Jatiluhur tampung 373 mahasiswa
Dari total 484 anak KPM PKH yang melanjutkan kuliah tahun ini, Politeknik Jatiluhur menjadi kampus dengan jumlah penerimaan terbanyak.
Sebanyak 373 anak tercatat melanjutkan pendidikan di perguruan tinggi tersebut. Sementara itu, mahasiswa lainnya tersebar di sejumlah perguruan tinggi negeri dan swasta, baik di Purwakarta maupun di luar daerah.
“Politeknik Jatiluhur mencatatkan penerimaan terbanyak, yaitu mencapai 373 anak KPM PKH. Sementara sisanya tersebar di beberapa perguruan tinggi swasta dan negeri, baik di dalam wilayah Purwakarta maupun luar kota,” jelas Agus.
Data tersebut menunjukkan bahwa jalur kerja sama dengan perguruan tinggi menjadi salah satu cara yang digunakan pendamping PKH untuk membantu penerima manfaat mengakses pendidikan tinggi.
Pendidikan diharapkan memutus mata rantai kemiskinan
Pendamping PKH Purwakarta berharap program pendampingan dan kemitraan dengan perguruan tinggi dapat terus berjalan. Dengan begitu, semakin banyak anak dari keluarga kurang mampu yang berani melanjutkan pendidikan ke jenjang sarjana maupun diploma.
Agus menilai pendidikan dapat menjadi investasi jangka panjang bagi masa depan keluarga penerima manfaat.
“Pendidikan adalah investasi jangka panjang. Harapan kami, setelah mereka lulus dan sukses nanti, mereka mampu mengangkat derajat serta kesejahteraan ekonominya masing-masing,” tuturnya.
Melalui dukungan beasiswa dan pendampingan, anak-anak KPM PKH diharapkan memiliki kesempatan lebih besar untuk meraih cita-cita sekaligus meningkatkan kesejahteraan keluarga pada masa mendatang.
