Jangan Hanya Mengandalkan Angka Smartwatch
Penggunaan smartwatch dan perangkat pemantau kebugaran semakin umum di kalangan orang yang rutin berolahraga.
Perangkat ini membantu pengguna memantau denyut jantung dan melihat bagaimana tubuh merespons aktivitas fisik.
Meski demikian, hasil pengukurannya tidak boleh menjadi satu-satunya dasar untuk menilai keamanan olahraga.
Salah satu patokan yang sering digunakan adalah denyut jantung maksimal berdasarkan usia.
Angka tersebut biasanya dihitung menggunakan rumus tertentu.
Namun, hasilnya hanya berupa perkiraan. Angka tersebut tidak otomatis menunjukkan batas aman atau batas berbahaya bagi setiap orang.
Vito menjelaskan bahwa denyut jantung yang melewati angka perkiraan maksimal tidak serta-merta berarti jantung sedang dalam bahaya.
Sebaliknya, denyut jantung yang masih berada di bawah angka tersebut juga tidak menjamin seseorang aman, terutama jika memiliki riwayat penyakit jantung atau mengalami gejala yang mencurigakan.
Selain dengan memantau denyut jantung, penting untuk mengenali perubahan kondisi tubuh selama beraktivitas fisik.
Jika jantung terasa berdebar berbeda dari biasanya, sebaiknya kurangi intensitas latihan atau segera berhenti untuk beristirahat.
Jangan mengabaikan nyeri dada, sesak napas berat, pusing, maupun sensasi seperti akan pingsan hanya karena hasil pengukuran smartwatch terlihat normal.
Jika gejalanya berat atau disertai tanda bahaya lainnya, segera cari pertolongan medis darurat.
Pada akhirnya, olahraga tetap penting untuk menjaga kesehatan jantung.
Namun, latihan perlu disesuaikan dengan kemampuan tubuh dan kondisi kesehatan masing-masing.
Memahami sinyal tubuh serta tidak memaksakan diri menjadi langkah penting agar manfaat olahraga bisa diperoleh dengan lebih aman.
