Peringatan IMF dan Respons Harga Perak
Dalam laporan terbarunya, Dana Moneter Internasional (IMF) turut memberikan peringatan serius mengenai risiko global.
Tingginya utang pemerintah serta kenaikan imbal hasil obligasi berpotensi semakin terdorong naik akibat tekanan inflasi yang dipicu oleh konflik geopolitik dan perang.
Analis dari Commerzbank menilai bahwa kebijakan suku bunga tinggi merupakan pedang bermata dua bagi eksistensi emas.
Di satu sisi, suku bunga tinggi menaikkan biaya peluang (opportunity cost) dalam memegang emas yang tidak menghasilkan bunga.
Namun, di sisi lain, kondisi ini memperbesar beban fiskal pemerintah serta memicu kekhawatiran global mengenai keberlanjutan utang jangka panjang.
Tekanan masif ini tidak hanya menghantam emas, melainkan juga menyeret jatuh harga perak.
Merujuk data Refinitiv, harga perak pada Selasa (13/10/2026) anjlok tajam sebesar 1,45% ke level US$ 59,44 per troy ons, memperpanjang tren koreksi dalam dua hari beruntun.
Tren pelemahan ini berlanjut pada Rabu pagi di mana harga perak susut 0,54% ke posisi US$ 59,11 per troy ons.
Bagi para investor dan trader domestik, pergerakan harga emas hari ini menuntut kewaspadaan ekstra mengingat potensi volatilitas yang tinggi menjelang pengumuman data ekonomi penting Amerika Serikat.***
