Tim desain juga menjadikan huruf “M” sebagai salah satu titik awal pengembangan huruf kapital. Selain muncul dalam bahan yang diteliti, huruf tersebut merupakan inisial nama Michelangelo.
Untuk angka, tim mengembangkan bentuknya berdasarkan karakter huruf karena tidak menemukan contoh angka yang ditulis langsung oleh sang seniman. Salah satu pendekatannya adalah merancang angka satu dengan mengacu pada huruf “I”.
Secara keseluruhan, Studiogusto menghasilkan lebih dari 500 karakter untuk setiap gaya font. Variasinya mencakup reguler, italic, tebal atau bold, serta bold italic.
Meski memiliki dasar riset sejarah, desain Michelangelus tidak sepenuhnya mendapat sambutan positif.
Sejumlah pengguna internet mempertanyakan seberapa dekat bentuk font tersebut dengan tulisan asli Michelangelo. Kritik itu dibahas dalam forum Reddit dan dikutip oleh media teknologi TechRadar.
Sebagian pengguna menilai interpretasi tulisan tangan sang seniman terlalu longgar. Ada pula yang menyoroti bentuk huruf kapital “A” dan “M” karena dianggap berbeda dari referensi aslinya.
Namun, pendekatan yang digunakan memang bukan menyalin manuskrip secara harfiah.
Penjelasan resmi dari pihak Basilika Santo Petrus, sebagaimana dikutip dalam bahan pemberitaan, menyebut bahwa proyek ini berupaya menerjemahkan logika visual, proporsi, irama, dan harmoni tulisan Michelangelo ke dalam tipografi kontemporer.
Dengan demikian, Michelangelus lebih mengutamakan perpaduan antara karakter historis dan keterbacaan daripada kemiripan mutlak dengan tulisan tangan sang seniman.
Perbedaan tujuan inilah yang menjadi salah satu sumber perdebatan di kalangan pengguna.
