Untuk mendapatkan inspirasi yang sesuai, tim Studiogusto meneliti manuskrip asli Michelangelo di arsip Vatikan.
Mereka mempelajari sejumlah unsur tulisan, seperti proporsi huruf, irama bentuk, serta keseimbangan antara ruang kosong dan bagian yang terisi.
Direktur Kreatif Studiogusto, Stefano Caliandro, menilai tulisan tangan Michelangelo mencerminkan karakter sang seniman, termasuk ketidaksabaran, ketelitian, dan energi.
Unsur-unsur itu kemudian dijadikan acuan dalam membangun karakter visual Michelangelus.
Meski begitu, font ini tidak dibuat untuk menyalin tulisan tangan Michelangelo secara persis.
Tim desain justru berusaha menerjemahkan pola visualnya ke dalam sistem huruf digital yang sesuai dengan kebutuhan masa kini.
CEO Studiogusto, Mimmo Berterame, juga menjelaskan bahwa kejelasan tulisan merupakan bagian penting dari pendekatan Michelangelo terhadap kegiatan menulis.
Prinsip tersebut diterapkan dalam Michelangelus. Font ini berusaha mempertahankan karakter khas sang seniman tanpa mengorbankan keterbacaan.
Salah satu detail yang dipertahankan adalah titik kecil pada bagian atas huruf “h” dan bagian bawah huruf “y”.
Bentuk hurufnya mengambil inspirasi dari manuskrip dan prasasti
Pengembangan Michelangelus dimulai dari huruf kecil miring atau italic yang bentuknya mendekati tulisan tangan Michelangelo.
Sementara itu, rancangan huruf reguler dan kapital lebih banyak mengacu pada prasasti karya sang seniman. Referensinya antara lain tulisan pada patung Pietà dan sejumlah prasasti di Basilika Santo Petrus.
Pietà merupakan karya Michelangelo yang menggambarkan Maria sedang memegang tubuh Yesus setelah wafat.
Huruf-huruf pada prasasti tersebut cenderung tinggi dan ramping. Karakter ini mengingatkan pada gaya tipografi condensed, yakni huruf yang memiliki bentuk relatif sempit.
