PurwakartaUpdate.com – Industri kecantikan Indonesia kehilangan salah satu tokoh pentingnya. Martha Tilaar, pendiri Martha Tilaar Group yang dikenal sebagai pelopor bisnis kosmetik nasional, meninggal dunia pada Rabu, 14 Oktober 2026.
Kabar duka tersebut disampaikan melalui akun Instagram resmi Martha Tilaar Group. Kepergiannya menjadi momen untuk mengenang perjalanan panjang perempuan yang merintis usaha kecantikan dari sebuah garasi rumah.
“Dengan duka cita yang mendalam, keluarga besar Martha Tilaar Group menyampaikan kabar berpulangnya DR. (H.C) Martha Tilaar, Founder Martha Tilaar Group, pada hari ini, Rabu, 14 Oktober 2026.”
Perjalanan Martha tidak hanya berkaitan dengan produk kosmetik. Ia juga dikenal mengembangkan perawatan kecantikan yang memanfaatkan bahan-bahan tradisional Indonesia.
Masa Kecil Martha Tilaar
Martha Tilaar lahir di Kebumen, Jawa Tengah, pada 4 September 1937. Ia tumbuh dalam keluarga Jawa-Tionghoa yang memiliki kehidupan ekonomi cukup baik.
Masa kecilnya banyak dihabiskan di Gombong, Jawa Tengah, bersama dua adiknya. Berdasarkan kisah kehidupannya yang dikaji dalam jurnal tentang perkembangan bisnis Martha Tilaar, ia juga mendapat banyak bekal keterampilan dari sang ibu.
Saat kecil, Martha dikenal sering sakit. Kondisi tersebut membuat ibunya berusaha membekalinya dengan berbagai kemampuan yang bisa berguna ketika dewasa.
Ia belajar berjualan, menghitung uang, hingga memilih bahan makanan. Didikan itu kemudian menjadi salah satu bekal penting dalam perjalanan hidupnya.
Jiwa Bisnis Sudah Terlihat Sejak Kecil
Kemampuan berwirausaha Martha mulai terlihat ketika masih bersekolah. Ia pernah membuat aksesori sederhana dari bahan seperti sogok telik dan jali-jali putih, kemudian menjualnya kepada teman-temannya.
Sang ibu juga melatihnya berjualan mangga. Setelah pulang sekolah, Martha diminta menawarkan buah tersebut di depan pagar rumah.
Pengalaman sederhana itu memperkenalkannya pada kegiatan berdagang sejak usia muda. Keterampilan tersebut kelak berguna ketika ia membangun bisnis kecantikan sendiri.
Awalnya Tidak Terlalu Peduli Penampilan
Meski kemudian dikenal sebagai tokoh industri kecantikan, Martha muda justru disebut memiliki penampilan tomboy dan tidak terlalu memikirkan soal riasan.
Ibunya bahkan membandingkan penampilannya dengan dakocan, boneka asal Jepang. Melihat hal tersebut, sang ibu kemudian mengantarkannya mengikuti kursus kecantikan.
Martha belajar di kelas kecantikan milik Bu Titi, yang kala itu dikenal di Jakarta. Dari pengalaman tersebut, ketertarikannya pada dunia kecantikan mulai berkembang.
Lulusan Pendidikan Sejarah
Selain tertarik pada kecantikan, Martha juga menyukai sejarah. Ketertarikan itu tumbuh dari kebiasaan ayahnya menceritakan berbagai kisah, mulai dari cerita rakyat hingga tokoh-tokoh bersejarah.
Ia juga menikmati kesenian tradisional, seperti wayang, ketoprak, ludruk, dan ronggeng.
Minat tersebut membawanya mengambil jurusan Pendidikan Sejarah di IKIP Jakarta. Martha berhasil menyelesaikan pendidikannya dan meraih gelar sarjana pada 1963.
Latar belakang pendidikannya menunjukkan bahwa perjalanan Martha menuju industri kecantikan tidak berlangsung melalui jalur yang biasa dibayangkan orang.
Mendalami Kecantikan hingga ke Amerika Serikat
Kesempatan baru datang ketika Martha mengikuti suaminya, Prof. Dr. Henry Alexis Rudolf Tilaar, yang menjalani tugas belajar di Amerika Serikat.
Di sana, Martha memperdalam pengetahuan tentang kecantikan di Academy of Beauty Culture, Bloomington, Indiana. Pendidikan tersebut diselesaikannya pada 1968.
Ia kemudian bekerja selama sekitar tiga tahun di Campus Beauty Salon, Universitas Indiana. Pengalaman itu memberinya kesempatan untuk mengenal praktik bisnis kecantikan secara lebih dekat.
Setelah kembali ke Indonesia, Martha mulai menyiapkan langkah untuk membangun usahanya sendiri.
Merintis Salon dari Garasi Rumah
Pada 1970, Martha membuka salon kecantikan pertamanya di Jalan Tosari, Jakarta Pusat. Karena modalnya terbatas, usaha itu dimulai dari garasi rumah berukuran sekitar 6 x 4 meter.
Salon sederhana tersebut perlahan menarik pelanggan. Sejumlah tokoh dan keluarga pejabat, termasuk Rahmi Hatta, Nelly Adam Malik, serta Umar Wirahadikusumah, disebut pernah datang ke salon itu.
Setelah sekitar dua tahun menjalankan usaha, Martha memperluas pengetahuannya dengan mengunjungi sejumlah pusat kecantikan di Eropa.
Sepulang dari perjalanan tersebut, ia mulai mengembangkan racikan kosmetik dengan memanfaatkan pengetahuan tentang bahan alami dan ramuan tradisional Indonesia.
Pengetahuan mengenai jamu dan perawatan tubuh tradisional menjadi salah satu inspirasi dalam pengembangan layanan kecantikannya.
Pada 1972, Martha membuka salon kedua dan mulai menawarkan perawatan kecantikan tradisional.
Lahirnya Perusahaan Kosmetik dan Sariayu
Langkah Martha dalam membangun bisnis kecantikan semakin besar pada 1977. Bersama Theresia Harsini Setiady dan Bernard Pranata, ia mendirikan PT Martina Berto, perusahaan yang bergerak di bidang kosmetik dan jamu.
Perusahaan tersebut kemudian menghadirkan Sariayu sebagai merek produk kecantikan yang mengangkat unsur tradisional Indonesia dalam konsep kecantikan modern.
Perkembangan bisnis ini menjadi bagian penting dari perjalanan Martha dalam memperkenalkan produk kecantikan lokal kepada masyarakat.
Dari usaha kecil di garasi rumah, Martha membangun fondasi bisnis yang berkembang menjadi kelompok usaha di industri kecantikan nasional.
Kisahnya menjadi contoh perjalanan kewirausahaan yang berawal dari keterampilan, pengalaman, dan keberanian memulai usaha dengan sumber daya terbatas.
