“Kalau ada siswa yang terbukti, tentu ada konsekuensi sesuai aturan pendidikan. Namun, treatment terhadap peserta didik harus berbeda. Kita lihat dulu ketentuan dan kondisinya,” jelas Naufal.
Ia menambahkan, sekolah memiliki mekanisme pembinaan serta penerapan penghargaan dan konsekuensi dalam pendidikan karakter. Karena itu, setiap temuan perlu ditangani secara proporsional dan tidak terburu-buru mengambil tindakan.
Naufal berharap program pemeriksaan urine tersebut tidak hanya menjadi upaya untuk mengetahui ada atau tidaknya indikasi penyalahgunaan NAPZA di kalangan pelajar, tetapi juga menjadi bagian dari langkah perlindungan dan pembinaan generasi muda.
“Tujuan utamanya bagaimana menjaga peserta didik agar terbebas dari zat yang membahayakan tubuhnya, sehingga mereka bisa berkembang dan mengoptimalkan potensi yang dimiliki,” pungkasnya. (Red)
