Tanpa ragu, emak tersebut langsung memeluk erat tubuh sang bupati. Suasana di sekitar mendadak menjadi hening dan sarat akan emosi positif.
Tak banyak kata yang terucap dari bibir sang emak selain ucapan syukur yang mendalam karena bisa melihat dan bertemu langsung dengan pemimpin yang diidolakannya dalam keadaan sehat.
“Alhamdulillah, bisa bertemu…” ucap emak tersebut dengan nada suara yang bergetar dan lirih karena menahan haru.
Mendapati warganya menangis haru, Om Zein menunjukkan gestur kepemimpinan yang humanis.
Dengan senyuman hangat, ia langsung membalas pelukan tersebut sambil mengusap kepala sang emak dengan penuh kasih sayang, seraya mendoakannya.
“Emak sehat-sehat yaa…” balas Om Zein menenangkan.
Perhatian Nyata: Menanyakan Kondisi Dapur Warga
Kunjungan seorang pemimpin tentu tidak lengkap tanpa kepedulian yang konkret. Bukan Om Zein namanya jika melewatkan kebiasaan blusukannya untuk mengecek langsung kondisi dapur warganya.
Di sela-sela kehangatan tersebut, ia langsung melontarkan pertanyaan yang menjadi ciri khas kepedulian sosialnya.
“Emak punya beras?” tanya Om Zein secara spontan.
Mendapat pertanyaan tersebut, sang emak menjawab dengan jujur tanpa ada niat mengharapkan bantuan berlebih, mengingat persediaan di rumahnya masih ada meski dalam jumlah yang terbatas.
“Punya, Alhamdulillah,” jawab emak singkat.
Meski mengetahui warganya masih memiliki persediaan pangan, Om Zein tetap menunjukkan ketulusan hatinya.
Ia bersikeras memberikan sejumlah bantuan uang tunai agar dapat dibelikan tambahan sembako guna mencukupi kebutuhan dapur harian sang emak.
Momen penutup kunjungan tersebut ditutup dalam balutan rasa haru yang semakin mendalam. Sang emak kembali memeluk erat Om Zein, kali ini diiringi dengan deretan doa tulus dari masyarakat agar sang bupati senantiasa diberikan kesehatan dan keberkahan dalam memimpin Kabupaten Purwakarta ke depan.
Bagaimana tanggapan Anda melihat kedekatan emosional antara Bupati Purwakarta Om Zein dan warga di Pasar Sasagaran ini?***
