Setelah dingin, buah aren dipotong menggunakan alat khusus, sebelum biji kolang kaling di dalamnya dicongkel satu per satu dengan pisau.
Meski produksi terbatas, lapak sederhana Heri tetap didatangi pembeli. Beberapa pengendara tampak berhenti sejenak, turun dari kendaraan, lalu membeli kolang kaling langsung di tempat pengolahan.
Harga yang ditawarkan pada Ramadan kali ini mengalami kenaikan meski masih relatif terjangkau, yakni Rp20 ribu per kilogram.
Nurma, salah seorang pembeli, mengaku sengaja berhenti saat melintas. “Saya beli buat bikin kolak, makanan khas Ramadan. Di sini harganya murah dan masih segar,” katanya.
Diketahui saat bulan suci Ramadan kolang kaling nyaris tak pernah absen. Teksturnya yang kenyal, bening keputihan, dan sensasi segar saat dikunyah membuat panganan ini digemari banyak orang untuk berbuka puasa.
Namun di balik kesederhanaannya, kolang kaling menyimpan cerita panjang, tentang proses yang rumit, waktu yang tak singkat, dan kini, persoalan kelangkaan bahan baku.(*)
