Ayahnya meninggal dunia. Beberapa bulan kemudian, sang ibu juga pergi untuk selamanya. Iqbal kemudian menjalani kehidupan di sebuah panti asuhan.
Pengalaman masa kecil itu tidak hilang begitu saja. Justru dari pengalaman tersebut tumbuh keinginan untuk memberikan tempat bagi anak-anak lain yang menghadapi keadaan serupa.
Setelah dewasa, Iqbal bertekad mendirikan yayasan yang dapat menjadi tempat bagi anak-anak yatim, piatu, terlantar maupun mereka yang memiliki keterbatasan untuk mendapatkan pendidikan dan pengasuhan.
Di tengah perkembangan teknologi dan perubahan penggunaan telepon seluler dari BlackBerry menuju perangkat berbasis Android, Iqbal memanfaatkan media daring untuk memperkenalkan keberadaan yayasan. Informasi mengenai anak-anak yang membutuhkan pengasuhan disebarluaskan melalui media sosial dan jaringan masyarakat.
