PurwakartaUpdate.com – Kecelakaan lalu lintas yang dialami pengendara sepeda motor akibat fenomena rem blong masih sering terjadi, khususnya saat melintasi jalur menurun yang panjang, terjal, dan berliku.
Kondisi jalan seperti ini menuntut tingkat kewaspadaan yang sangat tinggi dari pengendara.
Sensitivitas dan bahaya berkendara di jalur curam terasa semakin besar bagi pengguna sepeda motor matik.
Tidak seperti motor bebek atau motor sport yang memiliki sistem perpindahan transmisi manual untuk membantu menahan laju kendaraan secara cepat dan instan melalui persneling rendah, motor matik membutuhkan teknik khusus agar tetap aman saat melintasi turunan ekstrem.
Mengapa Rem Motor Matik Rentan Panas dan Blong?
Sebagian besar populasi sepeda motor matik di Indonesia mengusung kombinasi rem cakram (disk brake) pada roda depan dan rem teromol (drum brake) di roda bagian belakang. Kombinasi ini sangat ampuh untuk penggunaan harian di jalanan datar.
Namun, ancaman besar muncul ketika motor digunakan secara terus-menerus menuruni bukit atau pegunungan.
Penggunaan rem secara terus-menerus tanpa jeda dapat menaikkan suhu secara drastis pada piringan cakram serta kaliper rem.
Ketika temperatur rem melewati batas toleransi, minyak rem dapat mendidih dan menimbulkan gelembung udara (vapor lock).
Akibatnya, timbul fenomena rem blong atau hilangnya daya cengkeram pengereman secara mendadak.
Instruktur Astra Honda Motor (AHM), Fauzan Tanaka, menjelaskan bahwa fenomena rem motor matik yang rentan blong di turunan panjang ini perlu diantisipasi sejak dini dengan kewaspadaan ekstra.
“Perlu diketahui saat kita berkendara di jalan menurun, kendaraan bisa bertambah kecepatan dengan sendirinya walaupun gas tidak diputar, sehingga perlu sangat berhati-hati,” ungkap Fauzan.
