Mata Uang Negara Maju Turun Bervariasi
Tidak hanya mata uang di kawasan Asia, tren penguatan Dolar AS juga membayangi mata uang utama negara-negara maju. Pergerakan mata uang global terpantau bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah.
Euro Eropa tercatat melemah 0,02 persen, Dolar Australia terkoreksi 0,04 persen, Dolar Kanada turun 0,03 persen, dan Franc Swiss melemah 0,11 persen.
Di sisi lain, hanya Pound Sterling Inggris yang mampu mencatatkan penguatan tipis sebesar 0,01 persen terhadap mata uang Paman Sam tersebut.
Kondisi ini menunjukkan bahwa para investor global saat ini cenderung mengamankan aset mereka pada mata uang safe haven, terutamanya Dolar AS, di tengah tingginya risiko geopolitik dunia.
Faktor Pemicu: Konflik Timur Tengah dan Sell-Off Pasar Saham
Analis Mata Uang dari DOO Financial Futures, Lukman Leong, menjelaskan bahwa pelemahan Rupiah kali ini dipicu oleh akumulasi sentimen negatif baik dari faktor eksternal maupun internal.
Dari sisi global, memanasnya eskalasi konflik geopolitik di kawasan Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran krisis energi.
Ketegangan tersebut mendorong lonjakan harga minyak mentah dunia, yang pada akhirnya menaikkan ekspektasi inflasi global dan memperkuat posisi Dolar AS.
“Rupiah diperkirakan melemah terhadap Dolar AS di tengah eskalasi di Timur Tengah yang kembali melonjakkan harga minyak mentah dunia. Kenaikan komoditas energi ini membuat pelaku pasar cenderung menghindari risiko di negara berkembang,” ujar Lukman.
Selain tekanan eksternal, kondisi pasar keuangan dalam negeri juga memberikan beban tambahan bagi nilai tukar.
Aksi lepas saham atau sell-off yang dilakukan oleh investor asing di pasar ekuitas domestik (IHSG) memicu arus modal keluar (capital outflow).
“Dari domestik, sell-off di pasar ekuitas juga masih terus membebani pergerakan Rupiah,” tambah Lukman.
