Risikonya semakin besar pada produk makanan dan minuman yang mempunyai masa simpan terbatas. Pengadaan stok sebaiknya disesuaikan dengan pola penjualan.
6. Mengabaikan Kebersihan
Kebersihan tempat usaha menjadi bagian penting dari pengalaman pelanggan. Kios atau lapak sederhana tetap dapat menarik apabila bersih, rapi dan barang tertata.
Sebaliknya, tempat yang kotor dan berantakan dapat mengurangi kepercayaan calon pembeli.
7. Pelayanan Kurang Ramah
Pelanggan tidak hanya memperhatikan produk, tetapi juga pelayanan.
Sikap ramah, respons cepat, informasi yang jujur dan kesediaan menjawab pertanyaan dapat membantu membangun hubungan dengan pelanggan.
8. Mengabaikan Kritik Konsumen
Keluhan pelanggan dapat menjadi bahan evaluasi. Jika masalah yang sama terus muncul, pedagang perlu melihatnya sebagai tanda bahwa ada bagian usaha yang harus diperbaiki.
Masukan konsumen dapat digunakan untuk meningkatkan kualitas produk maupun pelayanan.
9. Tidak Mengikuti Perubahan Cara Belanja
Cara konsumen berbelanja terus berkembang. Sebagian pelanggan masih memilih datang langsung, sementara lainnya lebih nyaman memesan melalui WhatsApp atau platform digital.
Pedagang tidak harus mengikuti semua tren, tetapi perlu memahami kebiasaan konsumennya.
10. Jarang Memanfaatkan Media Sosial
Media sosial dapat menjadi etalase tambahan bagi usaha. Pedagang dapat mengunggah foto produk, harga, informasi stok dan kontak pemesanan.
Tidak perlu membuat konten rumit. Konsistensi dan informasi yang jelas justru menjadi hal penting.
11. Terlalu Cepat Menambah Produk
Produk yang laris terkadang membuat pedagang tergoda menambah banyak jenis barang.
Padahal, produk baru belum tentu memiliki pasar. Sebelum menambah produk, perhitungkan modal, kapasitas penyimpanan, permintaan dan potensi keuntungan.
