“ Kemarin ada yang cari spare part seperti keran bensin zaman 80-an, tutup rantai, sama jepitan,” kata Totok.
Untuk tiga komponen tersebut, total biayanya bisa mencapai Rp 700.000.
“ Itu cuma tiga item saja totalnya bisa kena Rp 700.000,” ungkapnya.
Harga tersebut menjadi gambaran bahwa komponen kecil pun dapat menguras anggaran ketika barang yang dicari sudah langka.
“Suku cadang zaman dulu di toko biasa kan sudah tidak ada yang jual, makanya harganya lumayan karena barangnya memang langka,” tambah Totok.
Totok yang telah menekuni bisnis motor lawas selama sekitar 20 tahun menyarankan calon kolektor menyediakan dana cadangan khusus untuk suku cadang.
Anggaran tambahan itu berguna ketika komponen yang dibutuhkan akhirnya ditemukan. Dengan persiapan tersebut, proses restorasi diharapkan tidak terhenti hanya karena pemilik belum memiliki dana untuk membeli bagian tertentu.
Sebab, pengeluaran untuk suku cadang bisa terus bertambah. Dalam kondisi tertentu, total biaya perbaikan bahkan dapat mendekati atau melampaui harga motor ketika pertama kali dibeli.
“Memang harus ada cadangan bujet khusus buat cari spare part orisinal kalau mau hasilnya benar-benar sempurna,” ujar Totok.
Ia juga mengingatkan bahwa biaya restorasi sering kali baru terasa setelah pemilik mulai berburu komponen.
“Banyak yang awalnya mengira murah, tapi pas hunting spare part orisinal baru terasa total biayanya,” pungkasnya.
Karena itu, calon pemilik motor bebek klasik sebaiknya tidak hanya menghitung harga pembelian. Biaya servis, perawatan, dan ketersediaan suku cadang juga perlu masuk dalam perencanaan sejak awal.
Dengan anggaran yang realistis, hobi mengoleksi motor lawas bisa dijalani dengan lebih terencana tanpa terlalu terbebani biaya tak terduga.
